TEMANGGUNG - Hingga akhir semester pertama tahun ini sebanyak 759 ekor unggas di Kabupaten Temanggung diketahui mati akibat terinfeksi virus Avian influenza (AI) atau populer disebut flu burung.
Berdasarkan data di Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Temanggung, kejadian pertama dilaporkan pada bulan Januari lalu oleh warga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo. Saat itu, sebanyak 402 ekor ayam ras milik Mustanir dan beberapa warga lain dilaporkan mati mendadak. Setelah dicek oleh petugas, ratusan ayam tersebut dinyatakan mati akibat terserang virus AI.
Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Suparjo di ruang kerjanya, kemarin, mengatakan dibanding jumlah populasi unggas secara keseluruhan, angka kematian akibat flu burung relatif rendah, yakni hanya sekitar 0,9%. Kendati demikian, masyarakat diimbau agar selalu waspada karena penularan virus ini tergolong cepat. ”Lebih baik melakukan upaya pencegahan daripada penanganan,” ujarnya.
Beberapa bentuk upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan pemberian vaksinasi rutin 3-4 kali dalam setahun kepada unggas, pengandangan hewan, desinfeksi, dan penerapan biosecurity.
Penyemprotan Desinfektan Untuk tindakan penanganan terhadap unggas yang dinyatakan positif terinfeksi, di samping pemusnahan ada pula beberapa langkah lain. Di antaranya penyemprotan desinfektan secara lebih rutin. Selain itu, peternak juga diimbau untuk segera mengisolasi dan mengandangkan unggas yang masih sehat dengan maksud agar tidak tertular.
”Sebenarnya yang paling efektif adalah dengan cara pemusnahan, karena jika tetap dibiarkan hidup akan beresiko menularkan kepada ternak lain bahkan bisa menjangkiti manusia,” jelas Suparjo. Akan tetapi sejauh ini, kata dia, di daerah Temanggung belum pernah ditemukan kasus penularan flu burung terhadap manusia.
Dari seluruh unggas yang terinfeksi, sebagian besar merupakan ternak ayam yang pemeliharaannya dilakukan secara umbaran (tidak dikandangkan). Faktor lain yang berpengaruh adalah cara penanganan bangkai unggas yang salah.
Diungkapkan olehnya, selama ini masih cukup sering dijumpai di masyarakat, bangkai unggas yang mati akibat flu burung hanya dibuang begitu saja di lingkungan sekitar atau sungai. Padahal seharusnya bangkai tersebut dibakar terlebih dulu, kemudian dikubur rapat-rapat di dalam tanah sehingga virus tidak ada kemungkinan menyebar ke tempat lain. (J1-69)





















