BPBD Provinsi Jawa Tengah

Jl. Imam Bonjol 1F Semarang | Tel. 024-3519927, 3519904 | email: bpbd@jatengprov.go.id

Aktifitas BPBD
Korban Longsor Setahun di Pengungsian (1) PDF Print E-mail
Kegiatan - Liputan Media
Saturday, 05 June 2010 05:38

Tak seorang pun ingin hidup di pengungsian. Apalagi, tinggal di tempat darurat itu sampai setahun lamanya. Namun, itulah yang dialami puluhan warga Dusun Bunter, Desa Pamulihan, Kecamatan Karangpucung, Cilacap. Bagaimana kondisi mereka?

TENDA berukuran sekitar 4x8 meter itu tampak penuh sesak. Lemari, meja, kursi, dipan, televisi, dan perabot lain berjejal di dalamnya. Suami-istri Kasyono (32)-Suiroh (30), penghuni tenda itu, harus membuat sekat-sekat dari kain sebagai pembatas antarruangan. Bersama dua anak mereka, pasangan itu harus tidur hanya dengan satu dipan.

Tatkala siang hari, udara di dalam tenda terasa sangat panas dan pengap. Jika ingin istirahat di siang yang terik, mereka harus keluar tenda dan mencari tempat berteduh di rumah-rumah tetangga terdekat yang masih utuh.

Itulah kondisi salah satu keluarga korban longsor di Dusun Bunter, Desa Pamulihan, Kecamatan Karangpucung, Cilacap. Ya, sejak Februari 2009, korban longsor di dusun itu tidak merasakan rumah tinggal yang layak. Sebab, 63 rumah tak bisa lagi ditinggali.

Beberapa keluarga menumpang di rumah saudara atau kerabat terdekatnya. Sebagian lainnya bertahan di tenda-tenda pengungsian. Adapun sisanya memberanikan diri tinggal di rumah lamanya, meskipun selalu dibayang-bayangi longsor susulan.

Hingga setahun lebih tiga bulan sejak bencana itu terjadi, nasib mereka masih  terkatung-katung. Sampai sekarang, para pengungsi belum memiliki rumah yang layak dan aman untuk ditinggali. Meski demikian, mereka tetap berharap pemerintah memberikan bantuan rumah.

Setidaknya masih ada 15 keluarga yang tinggal di tenda pengungsian. Tenda-tenda itu tersebar di beberapa lokasi, yakni di antara pekarangan rumah warga lain yang dianggap aman dari bahaya longsor.

“Kami nggak berani tinggal di rumah yang lama, karena temboknya sudah ngajeblak (runtuh). Tapi di tenda kalau siang panas sekali, nggak kuat di dalam tenda,” kata Suiroh.

Ia menuturkan, kala malam tiba, mereka baru bisa tidur di dalam tenda. Kesusahan kembali menimpa manakala hujan turun. Terkadang tenda yang ditinggali bocor, sehingga air hujan masuk ke dalam tenda. Padahal, anak-anak pasangan pengungsi itu masih kecil. Anak pertamanya baru kelas 2 SD dan anak keduanya berusia 18 bulan. “Ketika pertama kali mengungsi, anak saya masih bayi, umurnya beberapa bulan,” katanya.

Jika hendak mandi atau mencuci, para pengungsi itu terpaksa menumpang di rumah yang dekat dari tenda. Bahkan untuk buang air, terkadang mereka harus pergi ke lebak (sungai kecil) di antara perbukitan dekat dusun itu.

Sebagian pengungsi membuat dapur kecil di luar tenda untuk aktivitas masak-memasak. Namun ada pula yang memasak di dalam tenda, sehingga tempat tinggal darurat itu mudah rusak dan berlubang.

Setahun lebih dipakai, tenda-tenda pengungsi sudah banyak yang rusak atau bocor. Bahkan, sebagian pengungsi terpaksa meninggalkan tendanya karena sudah tidak pantas ditinggali. Mereka lantas menumpang ke rumah kerabat terdekat.

 

Tidak Betah

Turmudi (30), pengungsi lainnya terpaksa memilih tinggal di dekat bekas rumahnya yang lama. Padahal, lokasi tersebut telah dinyatakan rawan longsor. Kebanyakan dari mereka mengambil pilihan itu karena sudah tidak betah tinggal di tenda.

Sebagai konsekuensinya, kekhawatiran selalu menghantui. Di saat hujan lebat tiba, mereka buru-buru pindah ke rumah tetangga atau kerabatnya yang aman dari bahaya longsor. “Kalau hujan deras nggak bisa tenang, kami langsung lari ke rumah keluarga yang masih aman. Soalnya khawatir rumah yang lama bisa kena longsor lagi,” ujarnya.

Memang, tidak semua rumah lama yang mereka tinggalkan itu roboh total. Tetapi, sebagian besar sudah retak-retak dan rapuh. Ada pula rumah yang fondasinya patah dan ambles. Kondisi itu sangat tidak aman untuk ditinggali karena sewaktu-waktu bisa roboh. Apalagi, tanah di bawahnya masih labil dan rawan bergeser.

Meski demikian, mereka masih berharap ada relokasi agar memperoleh tempat tinggal baru yang layak dan aman. Saat ini, para pengungsi tetap menjalankan mata pencahariannya untuk menyambung hidup. Ada yang bekerja sebagai kuli panggul kayu, penyadap getah pinus, atau petani.

Kepala Desa Pamulihan, Kusnan mengakui para pengungsi sangat membutuhkan rumah yang layak dan aman. Pasalnya, hidup di tenda atau menumpang di rumah kerabat sangat jauh dari nyaman. Namun jika kembali ke rumah lama bakal selalu dibayang-bayangi longsor susulan.

Dia mengungkapkan, korban longsor di desanya ada 63 keluarga. Sebanyak 15 keluarga masih bertahan tinggal di tenda-tenda pengungsian. Adapun sisanya tinggal di rumah keluarga terdekat, atau nekat kembali ke rumah lamanya yang berada di lokasi rawan bencana.

Rencananya, pemerintah akan merelokasi mereka. Pemkab Cilacap sudah menukar guling tanah dengan Perhutani. Pasalnya, calon lahan relokasi itu milik Perhutani. Korban longsor telah didata dan diberi sosialisasi tentang rencana tersebut.

Saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menurunkan bantuan relokasi sebesar Rp 8,8 miliar. Bantuan itu digunakan untuk membangun perumahan korban di Desa Pamulihan, Kecamatan Karangpucung serta di Desa Negarajati dan Karangsari, Kecamatan Cimanggu. Namun, relokasi itu terkendala ketiadaan dana pendampingan dari APBD Kabupaten Cilacap 2010. Dana pendampingan yang dibutuhkan Rp 1,8 miliar.
Camat Karangpucung Drs Heroe Harjanto MM mengakui kondisi para pengungsi di Dusun Bunter sangat memprihatinkan. Kondisi mereka saat ini tidak berbeda jauh dengan kondisi  saat mereka baru mengungsi.

”Bagaimana tidak memprihatinkan, mereka sudah setahun tinggal di tenda pengungsian dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas. Untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) mereka harus menumpang di rumah warga yang tidak terkena longsor,” katanya.

Menurut Heroe, yang dikhawatirkan adalah kondisi kesehatan para pengungsi. Maklum, mereka tinggal di tempat darurat. Untuk itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Puskesmas Karangpucung agar memeriksa kesehatan para pengungsi secara rutin. ”Bagi kami, yang penting mereka sehat dulu. Soal kebutuhan pangan, kalau stok bahan pangan sudah hampir habis, kami segera meminta bantuan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),” katanya. (Khalid Yogi, Agus Sukaryanto-59)

Suara Merdeka, 5 Juni 2010

Last Updated on Thursday, 10 June 2010 05:41
 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Petunjuk Unit LIDi

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi