Aktifitas BPBD
Menko Kesra: Pembelian Ternak Tepat Sasaran PDF Print E-mail
Kegiatan - Liputan Media
Monday, 04 April 2011 05:03

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) HR Agung Laksono, pembelian hewan ternak korban Merapi dipastikan tepat sasaran. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 100 miliar tersisa Rp 64.022.670.000 yang ada di kas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Mengapa anggaran masih ada karena tidak semua warga ingin menjual sapinya. Warga merawat sendiri sapinya hingga sembuh," kata Agung, di Jakarta, akhir pekan lalu

Pembelian ternak itu dikoordinir Menkokesra sesuai Kepmenkokesra no. 38 tahun 2010 tentang Pembentukan Tim Penanganan Ternak Korban Bencana Merapi. Pembelian ternak mati di kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang ini pada radius 20 km dari pusat erupsi Merapi.

"Ini agar masyarakat tidak dirugikan setelah mengungsi dan tidak enggan untuk mengungsi serta bisa tenang di tempat penampungan sementara," kata Agung didampingi Sesmenko Kesra Indroyono Soesilo.

Adapun anggaran ternak sapi mati untuk sapi dewasa Rp8,5 juta, sapi dara Rp 5,5 juta, dan sapi pedet Rp 3,5 juta. Sapi-sapi ini bisa terdeteksi karena ada catatan di koperasi setempat.

Sementara itu, pembelian sapi hidup dengan perincian, sapi dewasa laktasi Rp 10 juta, sapi dewasa Rp 9 juta, sapi dara remaja Rp 7 juta, sapi pedet ( kurang dari 3 bulan), Rp 2.5 juta, sapi pedet (3-6 bulan) Rp 5 juta, sapi Jantan, sapi bakalan, kerbau Rp 22.000/kg bobot hidup, serta sapi betina dewasa Rp 20.000/kg bobot hidup.

Agung menegaskan, program pembelian ternak sapi korban erupsi Merapi sendiri berakhir pada 31 Desember 2010. "Tugas Tim Penanganan Ternak Korban Bencana Erupsi Merapi ini telah dilaksanakan dengan baik," kata Agung.

Huntara

Menyinggung tentang pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban Merapi, Agung Laksono mengemukakan pembangunan huntara terus dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

"Pemerintah akan terus melakukan percepatan pembangunan huntara itu sesuai jadwal yang telah ditetapkan," kata Menko Kesra.

Sementara itu, pembangunan hunian sementara bagi korban banjir lahar dingin di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mencapai 90 persen.

"Pembangunan huntara tahap pertama sebanyak 100 unit rumah telah mencapai 90 persen, tinggal memasang listrik dan air bersih," kata Kepala Desa Jumoyo, Sungkono di Magelang, kemarin.

Pembangunan huntara di Desa Jumoyo dilaksanakan mulai pertengahan Februari 2011 di dua lokasi yakni Lapangan Jumoyo 30 unit dan di Dusun Larangan 70 unit.

Sungkono mengatakan, setelah pembangunan tahap pertama selesai akan dilanjutkan pembangunan tahap kedua sebanyak 43 unit.

Menurut dia, untuk memperlancar pembangunan tahap kedua, setelah tahap pertama dilakukan finishing sementara pengungsi yang tinggal di shelter box menempati huntara, tetapi belum sebagai penghuni tetap.

Ia berharap, dalam penempatan hunian nanti di Lapangan Jumoyo untuk kepala keluarga usia lanjut dan tidak mempunyai alat transportasi, sedangkan di huntara Larangan untuk keluarga usia muda. (Singgih BS)

Suara Karya Online | Senin, 4 April 2011

 

 

 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi