Aktifitas BPBD
Rehab Bencana Merapi Butuh Rp 1,5 T
Kegiatan - Liputan Media
Friday, 10 June 2011 05:51

MAGELANG- Erupsi dan banjir lahar meningggalkan kerusakan luar biasa besar untuk empat kabupaten di sekitar lereng Gunung Merapi. Diperkirakan dana yang dibutuhkan untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Merapi mencapai sekitar Rp 1,5 triliun. Hal ini disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif saat meletakkan batu pertama pembangunan jembatan Srowol di Kabupaten Magelang, Rabu lalu.

Kebutuhan dana sebesar itu merupakan hasil perhitungan BNPB berdasar masukan pemkab dan pemprov. Syamsul mengatakan, dana tersebut akan digunakan untuk perbaikan infrastruktur, pembangunan gedung sekolah yang rusak serta penanganan sosial dan ekonomi masyarakat. Dana ini juga akan dimanfaatkan untuk merelokasi warga di kawasan berbahaya.

Untuk relokasi warga, saat ini tengah digodog Keputusan Presiden (Kepres) tentang pengorganisasian relokasi. "Dana ini termasuk untuk memperbaiki sabo dam penahan lahar dan bendungan irigasi warga yang rusak akibat banjir lahar dingin," jelas Syamsul Maarif.

Dijelaskan, tahap rehabilitasi dan rekonstruksi akan dilakukan secara bertahap mulai tahun ini hingga tahun 2013 mendatang. Kebutuhan anggaran per tahun rehabilitasi dan rekonstruksi hingga saat ini masih dalam pembahasan pemerintah dan DPR RI.

Menurutnya, bencana sebenarnya adalah cara Tuhan untuk mengingatkan manusia. Karena itu, pasca bencana Merapi ia berharap masyarakat akan bangkit dari keterpurukan. "Kita harus bangkit agar lulus ujian, jika tidak cobaan akan menimpa kita lagi. Bencana harus meningkatkan kelas kita," katanya.

Syamsul menjelaskan, penanganan bencana Merapi tidak hanya memfokuskan pada dampak sekarang, namun harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan bencana berikutnya. Ia pun berharap ada peningkatan kapasitas masyarakat dan pemkab dalam menghadapi bencana.

Ia menekankan pentingnya sosialisasi dan pelatihan pengurangan risiko bencana untuk mengantisipasi bencana Merapi yang akan datang. "Kita harus meningkatkan teknologi dan desain jembatan agar kuat menahan banjir lahar. Kearifan lokal masyarakat juga penting untuk meminimalisir bencana," jelas dia.

Soal pengurangan risiko bencana (PRB) ini, jelas Syamsul, Indonesia mendapatkan apresiasi tinggi dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Hal ini diwujudkan dengan keberhasilan Presiden SBY merebut SBY UN Disaster Management Award, baru-baru ini.

Menurut dia, PRB adalah soal kebijakan pemerintah, pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat serta melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi paskabencana. Untuk itu, Syamsul mengajak semua pihak untuk bersatu padu mempersiapkan diri ancaman banjir lahar dingin musim hujan mendatang.

Sambil menunggu pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, BNPB melakukan early recovery di empat kabupaten yang menjadi korban erupsi dan banjir lahar dingin yakni Kabupaten Magelang, Sleman, Boyolali dan Klaten.

Sementara itu, Bupati Magelang Ir Singgih Sanyoto mengungkapkan, meski saat ini intensitas banjir lahar dingin sudah berkurang, namun masih banyak pengungsi korban banjir yang membutuhkan penanganan.(H66,pr-28)

Suara Merdeka, 10 Juni 2011

 

 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi