Aktifitas BPBD
Rakor Persiapan "Hari Kesiapsiagaan Nasional" (HKBN)
Kegiatan - Pencegahan & Kesiapsiagaan
Written by Egga   
Monday, 17 April 2017 08:05

 

BPBD Prov Jateng telah melaksanakan kegiatan Rakor Persiapan "Hari Kesiapsiagaan Nasional" (HKBN) pd Kamis tgl 13 April 2017 di Hotel Indah Palace Solo. Rakor dihadiri oleh Wakil Gubernur Jateng, WaliKota Solo, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB. HKBN dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 26 April 2017 jam 10.00-12.00 WIB. Kegiatan HKBN dilatarbelakangi dari pengalaman beberapa negara maju yang rawan bencana seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, dan beberapa negara di Eropa, bahwa secara umum, kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan telah tumbuh serta berkembang melalui pelatihan secara teratur.

Latihan Kesiapsiagaan Bencana: Siap, untuk Selamat! Hasil survei di Jepang, pada kejadian gempa Great Hanshin Awaji 1995, menunjukkan bahwa presentase korban selamat disebabkan oleh Diri Sendiri sebesar 35%, Anggota Keluarga 31,9 %, Teman/Tetangga 28,1%, Orang Lewat 2,60%, Tim SAR 1,70 %, dan lain-Lain 0,90%. Berdasarkan ilustrasi tersebut, sangat jelas bahwa faktor yang paling menentukan adalah penguasaan pengetahuan yang dimiliki oleh “diri sendiri” untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman risiko bencana. Kemudian, diikuti oleh faktor bantuan anggota keluarga, teman, bantuan Tim Sar, dan di sekelilingnya. Maka, edukasi untuk meningkatkan pemahaman risiko berdesain tema Latihan Kesiapsiagaan Bencana Siap, Untuk Selamat! merupakan pesan utama bersama yang akan didorong dalam proses penyadaran (awareness) dalam peningkatan kemampuan diri sendiri.

Proses penyadaran tersebut berguna agar setiap orang dapat memahami risiko, mampu mengelola ancaman dan, pada gilirannya, berkontribusi dalam mendorong ketangguhan masyarakat dari ancaman bahaya bencana. Di samping itu, kohesi sosial, gotong royong, dan saling percaya merupakan nilai perekat modal sosial yang telah teruji dan terus dipupuk, baik kemampuan perorangan dan masyarakat secara kolektif, untuk mempersiapkan, merespon, dan bangkit dari keterpurukan akibat bencana. Sebagai suatu proses ketahanan sosial dan budaya sadar bencana dalam jangka panjang, ketangguhan masyarakat (Bene et al, 2012) menyasar tiga elemen ketangguhan, yaitu: kapasitas meredam ancaman (absorptive) yang menghasilkan persistensi, kemampuan beradaptasi (adoptive) yang menghasilkan penyesuaian perlahan dan berjangka panjang, dan kapasitas bertransformasi (transformative) yang menghasilkan respon-respon transformasional. Salah satu upaya mendasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran menumbuhkan budaya siaga adalah melalui latihan kesiapsiagaan. Jenis-jenis latihan kesiapsiagaan yang dapat dilakukan antara lain :

(i) Aktivasi Sirine Peringatan Dini,

(ii) Latihan Evakuasi Mandiri di Sekolah/Madrasah, Rumah Sakit Siaga Bencana, gedung bertingkat, dan pemukiman.

(iii) Uji Terap Tempat Pengungsian Sementara/Akhir se Indonesia. Latihan kesiapsiagaan yang dilaksanakan secara khusus, juga melibatkan kelompok rentan, seperti anak-anak, kaum lansia dan tunawisma (homeless), para penyandang disabilitas dan orang berkebutuhan khusus.

Tanggal 26 April 2017, dipilih sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional dalam rangka memperingati 10 tahun lahirnya Undang-Undang Penanggulangan Bencana No. 24 tahun 2007. Undang-undang ini sangat penting karena mengubah cara pandang menyikapi bencana yang semula respon menuju paradigma pengurangan risiko bencana.

DOKUMENTASI :

Last Updated on Monday, 17 April 2017 08:58
 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Petunjuk Unit LIDi

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi