BPBD Provinsi Jawa Tengah

Jl. Imam Bonjol 1F Semarang | Tel. 024-3519927, 3519904 | email: bpbd@jatengprov.go.id

Aktifitas BPBD
KEARIFAN LOKAL GOTONG ROYONG
Kegiatan - PIB Pusdalops Jateng
Written by Egga   
Wednesday, 20 March 2013 07:29

Kearifan Lokal yang dimaknai dengan Gotong Royong

Masa kecil ketika masih sekolah, merupakan masa yang menyenangkan dan merasa nyaman serta aman terlindungi karena kita mengenal hampir seluruh keluarga yang ada di kampung itu. Kita saling menyapa dari yang sesama anak anak, anak dengan yang dewasa, anak anak dengan orang tua. Kita bisa tahu keadaan antara keluarga satu dengan yang lain. Para orang tua sering menyapa dan menanyakan kabar keluarga masing masing. Kegembiraan yang tak terkira saat berkumpul membersihkan kampung, kita saling bahu membahu dengan senang hati dan makan bersama dengan makanan tradisional.

Kekerabatan kampung ini merupakan kearifan lokal sekaligus modal sosial yang sangat berharga. Walau begitu pasti ada salah satu keluarga yang tertutup dan merasa kalau bergaul dengan kampung itu merupakan kegiatan yang membuang buang waktu, mereka lebih suka belajar dan belajar. Ada juga yang keluarga kaya raya yang juga tidak mau ikut bersilaturahmi di kampung, ada yang dermawan ada juga yang pelit. Gotong royong merupakan warisan leluhur yang sangat luar biasa sehingga seorang anak mempunyai bekal yang cukup bagi anak dalam berkehidupan, bekal dari keluarga, bekal dari masyarakat dan bekal dari sekolahan

Awi termasuk anak kampung yang berteman satu kelas dengan salah satu keluarga yang tertutup.  Widyo namanya. Jarak rumah ke sekolahan sekitar 1 km, kita selalu berangkat bersama sama. Seperti biasa Widyo selalu membaca buku sambil berjalan, sedangkan Awi tetap melihat kesana kemari, menegur sapa dengan keluarga yang dilewati demikian pula sebaliknya mereka juga menyapa kita. Widyo tetap meneruskan membaca dan hanya tersenyum sambil melirik yang menyapa saja. Prestasi sekolah kami berdua sama sama juara, antara juara 1 dan 2, saling bergantian menjuarai kelas. Widyo hebat dalam berbahasa Inggris dikarenakan setiap ahrinya di rumahnya selalu menggunakan bahasa Inggris dan bisang sosial sesuai apa yang selalu dia baca. Awi lebih menguasai bidang IPA dan matematika. Awi dan Widyo selalu terpilih saat ada lomba cerdas cermat di tingkat sekolahan atau antar sekolahan dan selalu mendapatkan juara. Saat ini Awi dan Widyo terpisah jauh, Awi jadi dosen dan Widyo jadi Hakim.

Awi selalu menikmati apa saja yang ada di sekitar, termasuk dalam perjalanan ke sekolah, selalu memperhatikan burung burung yang berarak sejalan dengan perjalanan ke sekolahan,  selalu memperhatikan Eyang Putri yang hidup sendiri di rumah pojok kampung yang selalu duduk di depan rumah dan menyapa setiap mereka melewati rumahnya, terkadang memberi permen. Eyang putri selalu duduk di kursi goyang di beranda rumahnya. Awi juga senang melihat kereta api yang selalu menyetop mereka saat pulang sekolah dan selalu berbincang bincang dengan pak Man si penjaga pintu kereta api. Hingga pada suatu hari saat mereka pulang dan melihat pintu kereta tidak ditutup, mereka bingung ada apa. Awi begegas mendekati pintu kereta dan mendekati ruang tempat pak Man yang biasa menjaga pintu kereta api. Masya Allah ternyata pak Man ketiduran dan segera dibangunkan bersama agar menutup pintu kereta. Widyo tetap tidak merespon itu, dia hanya meneruskan membaca buku yang dibawanya. Demikian pula saat melewati rumah Eyang Putri, Awi kaget karena Eyang Putri tidak duduk di kursi goyangnya dan tidak menyapa seperti biasanya. Widyo meneruskan pulang, Awi mendekati rumah eyang dan ternyata Eyang Putri terjatuh dari kursi goyangnya dan Awi bergegas melaporkan ke tetangga terdekat dan segera dibawa ke rumah sakit, ternyata Eyang Putri mengalami stroke ringan.

Saat terjadi gempa bulan 27 Mei 2006 kearifan lokal gotong royong betul betul menjadi modal sosial yang besar terutama saat tanggap darurat dan pemulihan bencana. Mereka pulih dan bangkit dengan cepat dalam waktu kurang dari 1 tahun. Masyarakat mendapatkan bantuan pembangunan rumah bagi yang rusak, mereka dengan arif mengumpulkan bantuan itu untuk diberikan kepada para janda yang ditinggal suaminya, agar mereka bisa membangun rumah yang layak dan aman. Masyarakat dunia mengagumi kearifan ini. Memang ada yang mengalami masalah besar khususnya bagi keluarga yang tidak mau kumpul dengan masyarakat, mereka bingung sendiri dan stres karenanya.

Kehidupan bertetangga saat ini sudah mulai luntur, hampir tidak ada lagi kegotong royongan dan lebih mengutamakan individualisme. Demikian pula dengan sekolahan dengan kurikulum yang sangat berat memang menhasilkan anak yang pandai tapi berkaca mata kuda tanpa melihat dan peduli dengan keadaan sekitar.

oleh; Amien Widodo (Pakar dan Pemerhati PRB)

 

 

Last Updated on Wednesday, 20 March 2013 07:37
 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Petunjuk Unit LIDi

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi