Aktifitas BPBD
Upaya Sadar Bencana
Kegiatan - PIB Pusdalops Jateng
Written by Egga   
Tuesday, 26 March 2013 15:11

Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Rawan Longsor

Hujan masih belum reda, di beberapa tempat di wilayah Indonesai masih banyak tanah longsor dan banjir, seperti yang baru saja kita dengar di Cililin bandung. Senin pagi sekitar pukul 05.30 WIB, longsor terjadi di Kampung Nagrog RT04/07 Desa Mukapayung Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sebanyak 17 orang tertimbun longsor dan baru enam korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.Sebanyak 23 kepala keluarga (KK) di sekitar lokasi longsor di Kampung Nagrog RT 04/07 Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, diungsikan ke lokasi yang lebih aman. Lokasi korban yang terpendam belum bisa diketahui lokasinya secara pasti.

Berita diatas merupakan salah satu berita mengenaskan yang sudah terjadi di Indonesia dan korban sudah sangat banyak. Waktunya merubah perilaku yang selama ini pasif responsif menjadi aktif antisipatif, yaitu pemberdayaan masyarakat di kawasanm rawan longsor. Berdasarkan Undang Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU PB) pasal 4 menyebutkan bahwa penanggulangan bencana bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana; Pasal 5 dan 6 antara lain menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Peraturan Pemerintah no 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana pasal 7 (1) menyebutkan bahwa pengurangan risiko bencana merupakan kegiatan untuk mengurangi ancaman dan kerentanan serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Pemberdayaan masyarakat sadar bencana merupakan salah satu kunci keberhasilan penanggulanagn bencana dan mestinya pemberdayaan dilakukan dengan jalan membangun KOMUNITAS terpadu antara pemerintah, masyarakat dan sektor swasta yang ada di sekitar lokasi rawan bencana. Kesiapsiagaan ini menyiratkan masyarakat sebagai subyek bukan obyek seperti yang selama ini kita lakukan. Nantinya ada keterpaduan antara masyarakat yang terpapar dengan pemerintah dan pihak swasta, sehingga masyarakat bisa melaporkan kalau melihat tanda-tanda tanah mau longsor. Tanah longsor tidak terjadi “ujug ujug” tapi ada proses yang khas. Tanda tanda tanah mau longsior antara lain : (1) ada longsor-longsor kecil, (2) retakan-retakan di tanah dan di tembok/pagar, (3) pohon yang tumbuh miring atau tiang listrik miring, (4) pohon yang terangkat dan terlihat akarnya, (5) ada sumur hilang airnya tiba tiba, (6) dll).
Untuk itu disarankan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Buatlah Komunitas Penanggulangan Bencana (KPB) di tiap RT. Ini penting karena yang akan menolong mereka pertama kali adalah mereka sendiri dan ke bersamaan dalam semangat gotong royong akan sangat membantu. Perlu diingat bencana sering menghancurkan jaringan transportasi dan komunikasi sehingga masyarakat bisa terisolir.
  2. Pelajari sejarah dan arah sebaran dampak bencana yang pernah terjadi, bisa ditanyakan  pada tokoh masyarakat yang lebih tua atau pada aparat PEMKAB/PEMKOT.
  3. Lakukan pengamatan dan catat perilaku alam disekitar kita, kalau ada tanda-tanda bencana (misal ada tanda tanda tanah longsor) maka pengamatan harus dilakukan terus menerus, bila ada perubahan yang ekstrem segera lapor pihak yang berwenang. Hampir setiap bencana selalu memberi tanda-tanda yang khas yang bisa kita lihat.
  4. Buat Peta Sebaran dampak bencana yang pernah terjadi misalnya diberi tanda merah kawasan yang pernah terdampak sangat besar, kuning untuk yang sedang dan hijau untuk yang aman. Di peta itu juga dibuat rute jalan evakuasi menghindar dari jalur sebaran bencana menuju ke tempat aman.
  5. Segera hubungi pihak yang berwenang (BPBD) untuk mempelajari tata cara kesiapsiagaan dan tanggap darurat serta cara evakuasi. Juga kembangkan dan rencanakan serta berlatihlah untuk keadaan darurat dengan KPB lain di desa sekitar. Ini penting untuk koordinasi antar KPB terutama.
  6. Catat dan sebarkan ke setiap anggota komunitas no tilpon penting seperti BPBD, Dinsos, Satlak Linmas, PMI, SAR, Radio dan Televisi yang peduli terhadap bencana.
  7. Rencanakan dan beritahukan dengan cermat cara-cara evakuasi untuk keluarga kita sendiri, pastikan mereka mengetahuinya.
  8. Rencanakan dan beritahukan apa-apa yang harus disiapkan saat mengungsi misalnya menyiapkan tas yang diisi dengan pakaian, bahan makanan dan minuman, obat-obatan, senter/sentolop, dan alat-alat lain yang diperlukan. Bawa secukupnya untuk ngungsi selama minimal 3 hari.
  9. Buat sistem peringatan dini sederhana misalnya dengan tanda seperti kentongan, peluit, interkom, pengeras suara di masjid. Bersama BPBD dan ORARI kembangkan dan buat radio komunitas.
  10. Pelajari tentang PPPK dengan bantuan PMI agar saat terjadi bencana ada pertolongan pertama dengan cara yang benar. Banyak korban cacat atau meninggal karena tidak tahu cara penyelamatan pertama.

 

sumber: Amien Widodo, Pakar & Pemerhati PRB

 

Last Updated on Tuesday, 26 March 2013 15:20
 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Petunjuk Unit LIDi

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi