BPBD Provinsi Jawa Tengah

Jl. Imam Bonjol 1F Semarang | Tel. 024-3519927, 3519904 | email: bpbd@jatengprov.go.id

Aktifitas BPBD
Kerjasama Asia Pasifik untuk PRB
Kegiatan - PIB Pusdalops Jateng
Written by Egga   
Friday, 04 October 2013 09:57

Simulasi PRB di AcehKerjasama Asia Pasifik Bisa Kurangi Risiko Bencana

Kawasan Asia Pasifik tahun 2012 merupakan wilayah paling rawan bencana di dunia. Kejadian bencana dapat berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan bersangkutan.

Banyak kelompok rentan, seperti keluarga miskin yang situasi kehidupannya menjadi semakin sulit saat bencana. Bertolak dari sini, negara-negara di kawasan Asia Pasifik memperkuat kerjasama untuk mengurangi risiko bencana dan peningkatan ketangguhan menghadapi bencana.

Kerjasama ini diawali dengan workshop yang diikuti 40 peserta yang mewakili masing-masing negara, seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. David Brown dari Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) Roma memandu keseluruhan acara ini, dengan pembicara para pakar kebencanaan, perikanan dan kelautan di dalam negeri maupun luar negeri.

Workshop yang berlangsung selama 3 hari hingga hari Jumat 4 Oktober 2013 ini diprakarsai oleh Kemko Kesra bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan, FAO dan ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management (AHA) Centre. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menciptakan wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang manajemen risiko bencana, perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap perikanan global di kawasan Asia khususnya di ASEAN.

“Indonesia merupakan negara yang paling rawan bencana di dunia memahami betul dampak bencana terhadap aspek sosial dan ekonomi. Karena itu Indonesia akan terus berkomitmen meningkatkan upaya-upaya pengurangan risiko melalui berbagai cara, termasuk pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Menko Kesra Agung Laksono yang diwakili Sekretaris Menko Kesra, Sugihartatmo saat membuka workshop yang bertemakan ”Reducing Vulnerability to Disasters and Climate Change Impacts in Asia for The Fisheries and Aquaculture Sectors” itu, di Jakarta, Rabu 2 Oktober 2013 siang.

Sugihartatmo mengungkapkan, pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat masih menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim dan tingginya frekuensi kejadian bencana. Mata pencaharian dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada faktor iklim/cuaca, seperti petani, nelayan dan masyarakat pesisir menjadi semakin rentan.

Karenanya, masyarakat harus dikondisikan untuk lebih siap, dan tahan terhadap ancaman yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Untuk menghadapi perubahan iklim dan dampak-dampaknya, perlu segera mengintegrasikan dan mengarusutamakan aspek mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kedalam program-program pembangunan nasional.

Kepala Perwakilan FAO Indonesia Mustafa Imir menambahkan, tujuan keseluruhan workshop ini adalah untuk menelaah pengetahuan global tentang Manajemen Risiko Bencana (DRM), perikanan dan budidaya serta adaptasi perubahan iklim. Juga menarik pelajaran dari pengalaman regional dan nasional, meninjau masalah dan prioritas daerah serta mengidentifikasi langkah berikutnya yang spesifik untuk FAO, AHA Centre serta Pemerintah Indonesia.

“Kami membahas dan mencarikan solusi mengenai perubahan iklim, dampak bencana pada perikanan dan akuakultur di Asia Tenggara. Juga menetapkan prioritas regional dan nasional tentang manajemen risiko bencana dalam perikanan dan akuakultur,” katanya.


Sumber: Suara Pembaruan Jakarta

Last Updated on Friday, 04 October 2013 10:38
 

NO. TLP POSKO

Pemohon Informasi

lapor_gub

Buku Disasbilitas

Petunjuk Unit LIDi

Pengaduan Masyarakat

lapor_gub

Informasi Publik

Statistik

Pelayanan Informasi